Thursday, December 29, 2016

Adab dalam Mencari Ilmu

Banyak orang pintar dan mempunyai wawasan yang begitu luas, tapi ilmunya tidak bermanfaat bagi orang lain. Tahukah Anda? Di zaman sekarang nyaris tidak ada orang yang memprioritaskan akhlak sebagai integritas mereka. Bahkan konservatif mereka yang mana tolok ukur seseorang itu dinilai dari kepintaran yang ia miliki, bahkan malah tidak ada relevansinya dengan adab. Kalau kita menengok ke belakang, tepatnya pada zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم, kita akan menemukan banyak sekali peristiwa-peristiwa penting pada zaman tersebut. Perlu Anda ketahui bahwa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم berbeda dengan para Rasul dan Nabi sebelumnya yang mana dalam ajarannya beliau diutus oleh Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى tidak lain dan tidak bukan hanya untuk memperbaiki akhlak manusia.

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada hadis di bawah ini;

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ

Artinya: "Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak." (HR. Al-Bayhaqi dalam al-Sunan al-Kubra' (no. 20782), al-Bazzar dalam Musnad-nya (no. 8949))

Terbukti ketika 14 tahun setelah beliau diutus Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menjadi Rasul, Rasulullah baru menunaikan ibadah salat maktubah. Dan seumur hidupnya pun beliau hanya berpuasa ramadan sebanyak 9x saja.

Dari cerita di atas dapat disimpulkan bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم sangat menekankan kita untuk memperbaiki akhlak kita sebelum ingin mengenal apa itu Islam seutuhnya. Nah, masih berkaitan dengan topik kita hari ini yaitu tentang adab dalam mencari ilmu, di sini saya merujuk pada kitab "Ta'lim Muta'allim" yang mana kitab tersebut sangat saya rekomendasikan untuk kalian yang ingin mengetahui adab dalam mencari ilmu. Hal itu sangat diperlukan supaya ilmu yang kita dapatkan selama ini bisa barakah dan bermanfaat bagi orang lain. Perlu untuk diketahui bahwa kewajiban menuntut ilmu bagi muslim/muslimah itu tidak untuk sembarang ilmu, tapi terbatas pada ilmu agama dan ilmu yang menerangkan cara bertingkah laku atau bermuamalah dengan sesama manusia. Sehingga ada yang berkata, "Ilmu yang paling utama yaitu ilmu Hal. Dan perbuatan yang paling mulia adalah menjaga perilaku." Yang dimaksud ilmu Hal di sini yaitu ilmu agama Islam, salat misalnya. Untuk penampakan kitabnya, bisa Anda lihat pada gambar di bawah ini 😎



Oke, langsung saja kita bahas apa saja adab yang perlu kita perhatikan ketika akan mencari ilmu. Check it out, guys~

Yang pertama adalah Dzaka' (kecerdasan)

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى memberikan manusia akal yang dapat berifikir supaya kita bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Beda lagi ceritanya kalau hewan juga punya akal, karena akal yang dimiliki oleh hewan tidak dapat berfikir layaknya manusia. Hewan hanya menggunakan insting mereka untuk membedakan mana yang bisa dimakan atau bahkan sebaliknya. Maka dari itu kita sebagai manusia yang bisa berfikir dengan baik untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya, sebab ilmu adalah penghias bagi pemiliknya. Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu. Dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna.

Yang kedua adalah Hirsin (menjaga/sungguh-sungguh)

Pada poin yang kedua ini seseorang bisa dikatakan ahli dalam bidangnya itu dibutuhkan keseriusan dalam menguasi ilmu tersebut. Karena sejatinya untuk mendapatkan ilmu itu butuh keseriusan "yahtaju ilal juhdi wal ijtihadi". Dan jangan lupa untuk menjaga ilmu yang telah kita dapatkan, supaya ilmu apapun yang kita dapatkan selama ini tidak sia-sia begitu saja. Mengamalkan dan membagikan ilmu yang kita dapatkan adalah salah satu cara menjaga ilmu yang telah kita dapatkan, karena dengan cara tersebutlah ilmu kita bisa bermanfaat untuk kita sendiri bahkan untuk orang lain juga.

Yang ketiga adalah Isthibarin (sabar)

Masih berkaitan pada poin di atas, tanpa keseriusan maka sia-sialah apa yang telah kita dapatkan. Begitu juga modal ketiga kita untuk mendapatkan ilmu. Wajib hukumnya bagi pelajar/mahasiswa/santri untuk senantiasa bersabar dalam menuntun ilmu. Karena kesabaran itulah yang dapat membuahkan hasil bagi kita. Tanpa adanya kesabaran, maka apa yang kita dapatkan akan menjadi sia-sia saja. Tidak ada yang namanya instan untuk mencari ilmu itu!

Yang keempat adalah Bulghotin (biaya)

Namanya orang mencari ilmu yang harus butuh biaya. Dalam penerapannya, kita butuh yang namanya alat tulis, seperti pena, pensil, dsb. Karena untuk mendapatkan ilmu yang barakah serta bermanfaat itu butuh yang namanya pengorbanan, contohnya adalah biaya dalam mencari ilmu.

Yang kelima adalah Irsyadi Ustadzin (petunjuk guru)

Yang namanya guru itu pasti senang kalau muridnya sukses kelak dikemudian hari. Karena sejatinya guru adalah orang tua kedua kita yang mana selalu mengajari kita tanpa kenal pamrih. Selama guru tersebut mengajarkan kebaikan, wajib hukumnya kita untuk menuruti apa yang diperintahkan beliau. Perlu diketahui, kesuksesan seorang murid itu tidak lain dan tidak bukan berkat jasa guru yang telah mengajari kita. Jangan sekali-kali membanding-bandingkan guru Anda, karena semua guru itu sama, mereka ingin anak asuhnya menjadi orang yang mempunyai wawasan luas akan macam-macam ilmu.

Dan yang terakhir adalah Thulu zaman (waktu yang lama)

Nah, pada poin yg terakhir ini juga masih ada kaitannya dengan poin yang ketiga, yaitu sabar dalam menuntut ilmu. Kalau kita ingin dikategorikan sebagai orang yang pintar dalam berbagai aspek ilmu pengetahuan, maka dari itu sangat penting sekali untuk menimba ilmu selama-lamanya. Karena batasan mencari ilmu itu seperti yang disabdakan Rasulullah صلى الله عليه وسلم yaitu sejak dari kandungan ibu sampai kita berada di liang lahat. So, selama kita masih bisa bernafas, kita tetap dituntut untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Karena hakikatnya ilmu itu butuh proses untuk masuk ke dalam jiwa kita, tidak ada yang instan!

Nah, untuk kalian yang tertarik ingin membaca terjemahan kitab Ta'lim Muta'allim, bisa Anda klik di sini! Semoga apa yang telah saya bagikan di sini dapat bermanfaat bagi kalian semua Aamiin 😇

Artikel Terkait

Load comments